Sebuah Pengakuan Cinta dari Taehyung Biantara untuk Jungkook Dewangga.
Halo, Jungkook. Saya Taehyung Biantara.
Harusnya kalimat itulah yang saya ucapkan saat pertama kali bertemu denganmu. Memandangi paras indahmu secara langsung, menatap bola matamu yang membuat saya merenung.
Oh Tuhan, apakah saya bisa mendapatkan pria ini nantinya?
Namun, tidak. Sepertinya Tuhan ingin menorehkan sesuatu yang luar biasa dalam kisah kita.
“Mas, saya pamit juga.”
Apakah kamu mengingat kalimat tersebut? Jikalau kamu berbalik menanyakan saya, tentu saja saya selalu mengingatnya.
Saat pertama kali saya berkesempatan untuk melihat pribadimu dengan mata telanjang. Saat pertama kali saya dapat mengeluarkan suara yang sebelumnya tercekat.
Tanpa kamu sadari bahwa sejak saat itu mata saya seolah buta, Jungkook. Hanya dipenuhi dengan dirimu setiap harinya.
Ingat, ya. Hanya dirimu. Tidak ada yang lain.
Kamu sangat bersinar dan memesona bagaikan rembulan malam. Wajah elokmu yang menawan serta kulitmu yang seputih benda porselen tidak bisa hilang dari ingatan saya.
Semenjak saat itu, saya bertekad untuk bertemu denganmu kembali.
Namun saya adalah orang bodoh, Jungkook. Kamu tahu itu. Saya bingung bagaimana caranya agar dapat berjumpa dengan dirimu sehingga yang saya lakukan hanyalah pasrah. Berharap kepada Tuhan agar memberi kesempatan kepada saya untuk melihatmu kembali.
Tidak ada usaha sama sekali dan saya cukup menyesalinya hingga saat ini.
Dan, sepertinya dewa dan dewi keberuntungan sedang berpihak kepada saya waktu itu. Berbaik hati untuk mempertemukan kita kembali dan kali ini lebih lama karena saya dan kamu terlibat dalam satu proyek yang sama.
Artistik Indonesia, saya memperbolehkanmu meminta apa saja selain uang satu miliar.
Bercanda.
Kita bersua kembali untuk memulai perjalanan yang sudah saya duga akan mengasyikkan karena kita akan selalu bersisian. Kamu ada di sebelah saya, bersedia menemani saya kapan pun itu maka saya dapat memastikan bahwa petualangan kali ini akan berakhir manis.
Dan, sepertinya saya harus selalu berbangga hati atas benarnya prediksi tersebut.
Apakah kamu masih ingat saat kita duduk di kursi, memandangi pepohonan malam yang disfungsi? Juga dengan afeksi yang membuncah di saat kita berdua sibuk beradaptasi?
Sekali lagi, jikalau kamu berbalik tanya kepada saya, tentu saya akan selalu mengingatnya.
Entah apa yang otak saya proses saat itu sehingga dapat meluncurkan pengakuan mendadak di hadapanmu
Mengatakan bahwa saya jatuh cinta padamu dan berniat untuk mendekatimu. Namun, memang pada hari itu yang ada di dalam pikiran saya hanyalah namamu.
Jungkook, Jungkook, Jungkook.
Mungkin itulah yang menjadi faktor terbesar mengapa saya bisa menembakmu tanpa aba-aba.
Kamu terkejut, saya tahu. Atau bahkan kamu mengira saya aneh? Seorang pemuda yang tiba-tiba membuat pengakuan langsung di depanmu, saya tahu.
Dan setelah saya mengucapkan beberapa kata tersebut, saya sudah siap akan semua penolakan darimu terhadap saya.
Andai kamu tahu bahwa saya sudah hampir menyerah saat melihat kamu bergeming. Memintamu untuk melupakan kalimat tersebut agar hubungan antar rekan kita tidak hancur berkeping-keping.
Namun ketika kamu mengatakan “jangan” dengan teramat keras, otomatis menghentikan saya untuk mundur, saya seketika merasa telah kejatuhan bulan tepat di atas kepala saya.
Hei, bagaimana bisa pria seindah dirimu menerima orang bodoh ini?
Mempersilakan saya untuk mendekatimu, di saat kamu mengetahui bahwa tidak usaha yang saya lakukan barang setitik pun.
Tetapi lagi dan lagi mungkin Tuhan beserta jajaran-Nya sedang berpihak kepada saya pada malam itu. Menggerakkan hatimu untuk memperbolehkan saya berusaha mendapatkan dirimu, mempersilakan saya berjuang untuk dapat mendekap tubuhmu.
Sejak saat itu hubungan kita semakin dekat dan terjalin baik. Mengabari satu sama lain, berbincang di panggilan suara atau video. Bertemu di waktu senggang, hanyut dalam adrenalin yang menenangkan.
Lalu puncaknya waktu kamu jatuh sakit. Meminta saya untuk menghampirimu dan membawamu pulang ke rumah.
Duh, Jungkook. Andai saja kamu tahu bahwa sesungguhnya kamu sudah tiba di rumah. Saya akan menjadi rumahmu walaupun badai hebat menerjang.
Kita bergerak semakin dan semakin dekat hingga memuji satu sama lain tanpa gengsi, melemparkan kalimat sayang kepada satu sama lain meskipun malu-malu seperti terdengar jelas saat melontarkannya.
Kamu yang menerima saya dengan segenap hati, kamu yang membuat saya bahagia setengah mati.
Dunia terasa mudah dijalani saat kamu berada di sisi. Denganmu, saya merasakan euforia yang teramat sangat juga eksaltasi yang hebat.
Kamu harus tahu bahwa saya tidak ingin kehilangan dirimu sampai kapan pun. Termasuk ketika hubungan kita berdua diterpa angin kencang pada almanak itu.
Khusus yang ini tidak usah saya ceritakan, ya. Saya tidak ingin mengingat kenangan kelam saat bersamamu.
Kita berhasil melewati semuanya hingga saat ini. Berada di titik di mana saya dan kamu sudah seperti hubungan yang spesial, lebih dari teman.
Saya pernah memintamu untuk menjadi pacar saya, saat kita berciuman untuk pertama kali pada beberapa malam yang lalu. Namun, kamu tidak menginginkannya. Sudah nyaman dengan hubungan yang sekarang, katamu. Baiklah, saya turuti saat itu.
Bahwa sebenarnya saya tidak sungguh-sungguh mengiyakan perkataanmu.
Saya tidak bisa terus membiarkan hubungan kita berada pada jalan yang tidak jelas. Barat atau timur, utara atau selatan, kita tidak tahu posisi sebenarnya berada di mana karena abu-abu.
Jalan kita dipenuhi polusi sehingga tidak mengerti harus berbelok ke arah kanan atau kiri.
Saya akan selalu menyayangimu, memastikanmu dalam keadaan baik-baik saja dan selalu bahagia. Saya akan selalu mendekapmu erat, menyalurkan rasa kasih sayang yang teramat dalam dan melindungi dirimu dari kejamnya dunia.
Saya akan selalu mencintaimu dengan sangat hingga akhir. Sampai matahari sudah kehabisan tenaga untuk bersinar, sampai air laut tidak lagi menyentuh pasir yang berada di daratan. Saya akan selalu menaruh hati saya di tanganmu hingga dunia berhenti berputar.
Hingga rambut kita menjadi putih dan tubuh kita ringkih. Hingga wajah kita keriput dan maut menjemput.
Saya ingin selalu berada di dekatmu, semoga tuhan merestui kita hingga saat itu.
Maka di malam ini, di saat sang raja malam sedang bertengger dengan gagah di atas langit, saat bintang gemintang memancarkan cahayanya yang menyilaukan di angkasa sana, di saat saya semakin jatuh ke dalam hatimu dengan keras, saya ingin memintamu untuk bersama dengan saya menikmati sirkadian waktu yang terus berputar hingga hari terakhir dunia bekerja.
Jungkook Dewangga, maukah kamu menikah dengan saya?
Jika sudah selesai membaca, silakan membalikkan tubuhmu ke belakang.
Taehyung Biantara, Yogyakarta.
Ya Allah, kenapa manis banget๐ญ๐ญ
BalasHapusIri akutuh
astaga damage nya ๐ญ ๐ญ
BalasHapuskaaaaa haraaaa๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ nangisss bangett bacanyaaa๐ญ๐ญ manis bgt mas bian yaampun
BalasHapusApa ini kak raaaaa, ini manis banget astaga, mau pesen yang kayak mas bian satu ๐ญ๐ญ๐ญ
BalasHapusya Allah, plssss๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ
BalasHapusYa Allah sweet bgt anj
BalasHapusSWEET BANGET
BalasHapusGatau lagi harus komen apa, alias AAAAAAAAAAAAA
BalasHapusLangsung diajak nikah dong woyyy๐ญ๐ญ
BalasHapusini sweet parah sumpah pusing ๐ญ๐ญ
BalasHapusHADDUUUHHHHHHH PERUT GUEEEE
BalasHapustolong saya gakuat bacanya๐ญ๐ญ ini kenapaaa manis bgttttt
BalasHapusSumpahhh kak bukan cuma romantis tapi asksksk bgt kak raaaaaa ๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ pengen 1 kek biantara dong kak ๐ญ
BalasHapus